Kritik Presiden Jokowi harus jadi pemicu bagi Mendikbud dan Menristekdikti

06 Agu 2017

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kritik Presiden Joko Widodo kepada Menteri Pendidikan dan Budaya Muhadjir Effendy dan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir sudah tepat adanya. Walaupun belum mendengarkan masukan Presiden Jokowi, JK mengungkapkan, masukan untuk segera merespon perkembangan yang terjadi di dunia global untuk kemajuan Indonesia adalah tugas Muhadjir dan Nasir sebagai menteri.

"Saya belum dengar pidato Pak Presiden, tapi itu dorongan agar kedua menteri itu lebih kreatif," katanya usai menghadiri acara wisuda Universitas Al-Azhar Indonesia di Auditorium BPPT, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8). Dia mengaku mengerti apa yang menjadi keresahan dari Presiden Jokowi. Politisi Golkar ini mengharapkan masukan tersebut dianggap sebagai cambuk bagi para menteri agar bisa bekerja secara profesional kembali.

"Tentu ada yang dikerjakannya dengan baik, ada yang rutin tapi artinya penilaian kerja harus lebih maju lagi. Jangan lupa pendidikan kita anggarannya terbesar dari semua sektor dan maka itulah harus ada prestasinya," tegasnya. Sebelumnya, Presiden Jokowi melontarkan kritikan pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dan Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir. Jokowi meminta ada reformasi pendidikan di Indonesia.

"Saya sudah menyampaikan kepada Mendikbud juga, misalnya, agar kita ini memiliki sebuah fleksibilitas sehingga bisa merespons setiap perubahan-perubahan yang ada di dunia. Mendikbud, Mendikti (Menristekdikti) itu sangat harus sangat responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada di global maupun perubahan-perubahan yang kita hadapi di negara kita," ujar Jokowi di Rapimnas Hanura di Hotel Stone, Legian, Badung, Bali, Jumat (4/8).

Jokowi menjelaskan, globalisasi akan mengubah peta politik dan ekonomi dunia. Ia mengatakan harus ada pembinaan yang baik mengenai pendidikan. "Tapi yang sangat besar transisi ini yang harus kita waspadai, landscape politiknya akan berubah karena generasi-generasi mempengaruhi ekonomi dan landscape politik," tuturnya. Jokowi menyoroti pendidikan kejuruan dan perguruan tinggi yang masih monoton. Ia meminta ada penyesuaian kurikulum di pendidikan Indonesia. "Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan perubahan-perubahan yang ada. Bisa saja di situ jurusan animasi, jurusan video, jurusan ritel misalnya. Kenapa tidak? Jurusan mekatronika, padahal sudah berubah," tegasnya.

Jokowi kembali bicara tentang terobosan yang dibuat oleh Elon Musk, pendiri SpaceX, yang tengah mengembangkan teknologi Hyperloop. Elon Musk juga mengembangkan mobil listrik dengan merek Tesla. Maka itu Jokowi meminta jurusan di perguruan tinggi dibuat spesifik. "Kemudian di perguruan tinggi, kita sudah berapa puluh tahun kita selalu jurusannya adalah jurusan-jurusan yang itu-itu saja, jurusan ekonomi pasti ada betul? Jurusan hukum masih ada, jurusan sospol pasti ada. Tidak pernah kita berani detail masuk ke hal yang dibutuhkan sekarang ini. Kita terlalu linier, terlalu rutinitas, padahal perubahan-perubahan ini sangat cepat sekali," ungkap Jokowi. Menurut Jokowi, perguruan tinggi mestinya memiliki jurusan yang dibutuhkan masyarakat. Jurusan di perguruan tinggi juga perlu sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

"Misalnya masalah fakultas, kenapa tidak ada fakultas human resources management? Mengapa tidak ada fakultas logistik? Mengapa tidak ada fakultas ritel platform? Di luar sana sudah berubah seperti itu. Kenapa tidak ada fakultas khusus mengenai packaging? Mengapa tidak ada fakultas mengenai e-Sport? Mengapa tidak ada fakultas mengenai Green building? Misalnya," tutur Jokowi. Jokowi menilai meminta para menteri cepat beradaptasi dengan perubahan jaman. Ia minta agar peraturan dibuat lebih fleksibel. "Hapus saja, ganti dengan kebijakan-kebijakan yang baru, regulasi-regulasi yang baru sehingga kita fleksibel," pungkas mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. [noe] Sumber : Merdeka.com